Hubungan Makan Pagi dan Tingkat Konsumsi Zat Gizi dengan Daya Konsentrasi Siswa Sekolah Dasar

Oleh: Kholifatul Hafidha – UNAIR

PENDAHULUAN

Anak Usia Sekolah (AUS) merupakan masa dimana seorang anak mengalami pertumbuhan fisik dan mental guna menunjang kehidupannya dimasa depan. Hal ini tidak lepas dari peran status gizi yang baik untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan pada tubuh anak. Anak dengan status gizi yang buruk akan mengalami gangguan mental, sukar berkonsentrasi, rendah diri dan mengakibatkan prestasi belajar yang rendah. Hal tersebut terjadi karena adanya gangguan perkembangan pada otak sehingga mempengaruhi tingkat kecerdasannya. Asupan gizi yang rendah dapat disebabkan dari perilaku anak dalam kebiasaan makan, terutama pada saat sarapan. Sepertiga dari pemenuhan angka kecukupan gizi dapat diperoleh melalui sarapan, sehingga jenis makanan yang dikonsumsi harus memenuhi 20-35% dari kecukupan energi harian (Giovani,2008 dalam Mahmudiono T, 2013). Makan pagi menjadi sangat penting karena sebagai penyedia energi yang dapat meningkatkan pasokan gula darah ke otak sehingga otak dapat bekerja dengan optimal. Tujuan utama dalam penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara makan pagi dan tingkat konsumsi zat gizi dengan daya konsentrasi siswa. Sehingga diharapkan dapat mendukung program kesehatan dan gizi dalam meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.

METODE

Penelitian ini melibatkan 74 siswa yang dipilih secara stratified random sampling pada SDN Wonocatur dan SDN Sumberejo I, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, pada bulan April sampai dengan Mei 2010. Metode yang digunakan dalam penelitian ini termasuk kedalam metode cros sectional dengan menghimpun beberapa karakteristik diantaranya identitas pribadi, orang tua responden, kebiasaan makan pagi yang diperoleh melalui proses wawancara dengan menggunakan kuisioner terstruktur. Dari data wawancara tersebut diperoleh jumlah sampel laki laki pada kedua SD sebanyak 44 siswa dan perempuan sebanyak 30 siswa, dengan rata rata usia antara 10 tahun hingga 12 tahun. Sebagian besar orang tua siswa berprofesi sebagai pegawai wiraswasta dengan rata rata pendidikan akhir SMA pada SDN Sumberejo I dan SMP pada SDN Wonocatur. Jumlah uang saku yang dimiliki oleh para siswa sangat bervariasi namun berdasarkan hasil wawancara dilakukan, mayoritas siswa memiliki tingakt uang saku lebih dari  Rp 1900,00 hingga Rp 3800,00.  Tingkat konsumsi harian dan makan pagi di kumpulkan melalui 24 hours food recall dan food frequency questionnaire dan status gizi dinilai melalui antropometri, dan daya konsentrasi belajar diukurmelalui test Kraepelin. Sedangkan pada analisis data dilakukan menggunakan 2 cara yaitu analisis deskriptif untuk melihat gambaran distribusi, sedangkan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan menggunakan Korelasi Spearman, Chi-Square Test dan Fisher’s Exact, tergantung karakteristik data.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, sebagian besar orang tua responden yaitu ayah memiliki tingkat pendidikan SMP dan SMA dengan jenis pekerjaan yang bermacam-macam, yaitu pegawai swasta (47,2%) dan pedagang atau wiraswasta (20,3%) sedangkan sebagian besar ibu responden memiliki pendidikan terakhir hingga SD/Sederajat (32,4%) dan SMP/Sederajat (35,1%), dan bekerja sebagai pegawai swasta (39,2%) maupun tidak bekerja (36,5%). Hal ini dilakukan karena terdapat hubungan antara pendapatan keluarga, pendidikan orang tua terakhir dan pekerjaan keluarga dengan penyediaan bahan pangan yang menentukan kualitas gizi dan status kesehatan keluarga. Sebanyak 68% responden memiliki daya konsentrasi belajar kurang dan sebanyak 56,8% telah terbiasa melaksanakan sarapan pagi. Sarapan pagi dikatakan sangat penting karena apabila tidak dilakukan dapat menimbulkan dampak negarif berupa ketidakseimbangan sistem syaraf pusat yang diikuti dengan rasa pusing, badan gemetar atau rasa lelah sehingga anak kesulitan dalam menerima pelajaran dengan baik (Khomsan dalam Hanum dkk, 2013). Selain itu gangguan ingatan jangka pendek, tidak dapat menyelesaikan masalah, perhatian terganggu (Giovannini, dalam Hanum, 2013) dan penurunan hasil tes prestasi belajar (Phillips dalam Hanum dkk,2013) merupakan efek lain dari kebiasaan tidak sarapan. Pada penelitian ini bagi responden yang tidak terbiasa sarapan pagi (44,2%) diantaranya berjumlah 87 %  memiliki tingkat konsentrasi yang rendah. Berdasarkan hasil perhitungan melalui statistik Chi Square Test diperoleh nilai p=0,003 yang berarti terdapat hubungan antara kebiasaan sarapan dengan daya konsentrasi.

Tabel 3. Hubungan antara Makan Pagi dengan Daya Konsentrasi

jurnal1

 

Pada bagian karakteristik yang lain dalam penelitian ini yaitu tingkat konsumsi zat gizi sebanyak 51,4 % responden memiliki tingkat konsumsi kalori yang kurang. Selain itu konsumsi yang rendah juga berasal dari jenis karbohidrat, protein, dan zat besi. Kurangnya tingkat kecukupan energi pada responden dapat disebabkan oleh kualitas makan pagi yang tidak memenuhi syarat, yaitu sebanyak 20–35% dari kecukupan energi harian (Giovannini dalam Hanum dkk, 2013) atau ¼ kalori sehari (Judarwanto dalam Hanum dkk, 2013) tepat komposisinya, jumlahnya serta waktu pemberian (Pollitt dan Mathews dalam Hanum dkk, 2013). Sedangkan berdasarkan hasil FFQ sumber zat besi yang sering dikonsumsi oleh responden memiliki kandungan Fe yang rendah.  Di antara 51,4 % responden yang kekurangan kalori, diantaranya sebanyak 81,57% memiliki konsentrasi yang rendah, demikian pula dengan zat gizi yang lain. Sehingga berdasarkan hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan anatara asupan kalori, karbohidrat, protein dan Fe dengan daya konsentrasi siswa di sekolah (Tabel 5).

Tabel 4. Tingkat Konsumsi Zat Gizi

jurnal2

Tabel 5. Hubungan Tingkat Konsumsi Zat Gizi dengan Daya Konsentrasi

jurnal3

Penelitian lain yang dilakukan oleh Sunarti dkk dalam Hanum dkk (2013) mengatakan bahwa konsentrasi dipengaruhi oleh asupan energi dan protein saat makan pagi maupun snack pagi serta skor konsentrasi pagi. Kondisi tersebut berhubungan dengan pemakaian glukosa sebagai sumber energi. Dalam keadaan normal, sistim saraf pusat hanya mampu menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Sedangkan saat proses absorpsi, glukosa di absorpsi secara aktif menggunakan alat angkut protein dan energi sehingga jika kecukupan protein kurang maka proses pengangkutan glukosa sebagai nutrisi otak akan terganggu yang menyebabkan otak mengalami kekurangan glukosa yang akan memengaruhi daya konsentrasi. Selain itu  zat besi juga berperan dalam perkembangan psikomotor anak. Defisiensi besi berpengaruh terhadap fungsi otak, terutama terhadap fungsi sistem neurotransmitter (pengantar saraf), kerusakan struktur myelin, dan mengurangi metabolisme energi di otak sehingga akan mengganggu kepekaan reseptor saraf dopamin berkurang yang dapat berakhir dengan hilangnya reseptor tersebut. Daya konsentrasi, daya ingat dan kemampuan belajar terganggu, ambang batas rasa sakit meningkat, fungsi kelenjar tiroid dan kemampuan mengatur suhu tubuh menurun (Lozoff dan Youdim,1998 dalam Hanum dkk, 2013).

 

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bawasannya terdapat hubungan yang signifikan antara makan pagi atau sarapan dengan daya konsentrasi yang dibuktikan dengan hasil perhitungan melalui statistik Chi Square Test diperoleh nilai p=0,003 serta antara tingkat zat gizi yang dikonsumsi yaitu berupa kalori, karbohidrat, protein, dan zat besi dengan daya konsentrasi pada siswa sekolah dasar yang didasarkan pada analisis statistik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *