KONSUMSI BUAH DAN SAYUR ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI BOGOR

Oleh Takkas Abelio N, Institut Pertanian Bogor

 

PENDAHULUAN

Anak usia sekolah dasar (SD) merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Pertumbuhan dan perkembangan yang baik dipengaruhi oleh zat gizi yang dikonsumsi, terutama zat gizi yang terdapat dalam buah dan sayur. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan bahwa penduduk berumur ≥ 10 tahun yang kurang mengonsumsi buah dan sayur di Jawa Barat adalah 96,4%. Angka yang cukup tinggi tersebut menjadi permasalahan utama dalam menghadapi rendahnya angka konsumsi buah dan sayur. Padahal fungsi vitamin dan mineral dalam buah dan sayur hampir tidak dapat digantikan sehingga terpenuhinya kebutuhan konsumsi zat tersebut menjadi esensial. Faktor – faktor yang mempengaruhi rendahnya konsumsi buah dan sayur pada anak usia sekolah (AUS) antara lain diri sendiri, keluarga dan lingkungan. Oleh sebab itu, penelitian mengenai faktor yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur pada AUS dilakukan.

 

METODE

Bagian metode penelitian pada jurnal ini menjelaskan bahwa metode yang digunakan berupa Cross Sectional.Subyek yang diteliti berjumlah 108 orang dari dua sekolah dasar negeri (SDN) di Bogor, yakni SDN Cibanteng 1 dan SDN Papandayan. Selain itu, dilakukan wawancara dan pengambilan data konsumsi buah dan sayur melalui metode Semi Quantative Food Frequency Questionnaire(FFQ) yang diisi sendiri oleh subjek dengan dipandu peneliti. Selain itu, data mengenai frekuensi konsumsi buah dan sayur dalam satu bulan terakhir, karakteristik keluarga (pendidikan, pekerjaan, pendapatan orangtua, suku, dan besar keluarga) dan ketersediaan buah dan sayur di rumah didapatkan dengan cara memberikan kuesioner kepada orangtua subyek melalui siswa kemudian dikembalikan melalui siswa.

 

HASIL

Hasil penelitian menunjukan konsumsi buah dan sayur yang dianalisis terdiri atas 30 jenis buah-buahan dan 25 jenis sayur-sayuran. Lima jenisbuah-buahan yang paling sering dikonsumsi di SDN Cibantengadalahjambubiji (4,4±4,4 kali/minggu), jambu air (4,4±4,2 kali/minggu), anggur (4,3±4,6 kali/ minggu), pepaya (4,1±5 kali/minggu), danmangga (4±4,7 kali/minggu), sedangkan di SDN Papandayanadalahpepaya (4,3±4,9 kali/minggu), anggur (4±4,6 kali/minggu), rambutan (3,9±4,1 kali/minggu), mangga (3,9±4,1 kali/minggu), dansemangka (3,9±4,7 kali/minggu). Berdasarkan lima urutanjenissayur-sayuran yang paling seringdikonsumsi di SDN Cibantengadalahwortel (6,4±5,4 kali/minggu), kangkung (5,7±5,6 kali/minggu), tomat (4,9±5,0 kali/minggu), kacangpanjang (4,0±4,7 kali/minggu), danketimun (4±4,5 kali/minggu), sedangkan di SDN Papandayanadalahbayam (5,7±4,7 kali/ minggu), wortel (5,3±4,8 kali/minggu), kangkung (4,2±4,6 kali/minggu), tauge (3,5±4,2 kali/ minggu), dankacangpanjang (3,1±4 kali/minggu). Selainitu,independent sample t-test menunjukkan konsumsi buah di SDN Papandayan signifikan lebih tinggi dibandingkan di SDN Cibanteng, demikian pula konsumsi sayur di SDN Papandayan signifikan lebih tinggi dibandingkan di SDN Cibanteng. Hasil ini menunjukkan bahwa konsumsi buah dan sayur sebagian besar cenderung lebih tinggi di SDN Papandayan Kota Bogor dibandingkan dengan SDN Cibanteng Kabupaten Bogor.

 

PEMBAHASAN

Uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia subjek dengan konsumsi buah dan sayur subjek karena faktor usia anak-anak yang lebih cenderung mengonsumsi makanan yang lebih mereka sukai seperti jajanan dan sejenisnya. Uang saku subjek juga tidak berhubungan dengan konsumsi sayur subjek, tetapi terdapat hubungan yang signifikan positif antara uang saku subjek dengan konsumsi buah subyek. Hal tersebut dapat diasumsikan semakin besar uang saku maka semakin besar pula anak dalam mengonsumsi buah.

Uji korelasi Spearman juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan positif antara pendidikan ibu dengan konsumsi buah dan sayur subjek. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka konsumsi buah dan sayur pada subjek cenderung akan semakin baik. Pendidikan ayah juga menunjukkan hubungan yang signifikan positif dengan konsumsi buah dan sayur pada subjek. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan ayah maka konsumsi buah dan sayur pada subjek cenderung akan semakin baik, sedangkan besarnya anggota keluarga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan konsumsi buah dan sayur subyek.

Pendapatan keluarga berhubungan signifikan positif dengan konsumsi buah subjek. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi pendapatan keluarga maka akan tinggi konsumsi buah pada keluarga, namun pendapatan keluarga tidak berhubungan dengan konsumsi sayur pada subjek. Hal ini diduga karena harga sayuran yang relatif lebih terjangkau di kalangan masyarakat.

Berdasarkan uji korelasi Spearman, terdapat hubungan yang signifikan positif antara ketersediaan buah di rumah dengan konsumsi buah pada subjek. Hal ini berarti bahwa peningkatan ketersedian buah berbanding lurus dengan peningkatan konsumsi buah. Ketersediaan sayur di rumah tidak berhubungan dengan konsumsi sayur pada subjek. Hal ini menunjukkan bahwa tersedianya sayuran di rumah belum tentu dikonsumsi oleh anak.

Hubungan antara pengetahuan dan sikap gizi dengan konsumsi buah dan sayur anak berdasarkan uji korelasi Spearman, terdapat hubungan yang signifikan positif antara pengetahuan gizi subjek dengan konsumsi buah dan sayur subjek. Hal ini berarti bahwa semakin baik pengetahuan gizi maka semakin baik perilaku konsumsi buah dan sayur subjek dan sebaliknya. Sikap gizi subjek tidak berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur pada subjek. Hal ini berarti bahwa sikap gizi yang baik belum menentukan baiknya konsumsi buah dan sayur.

 

KESIMPULAN

Jenis buah dan sayuran yang paling sering di konsumsi di SDN Kabupaten Cibanteng adalah jambu biji dan wortel sedangkan pada SDN Kota Papandayan adalah pepaya dan bayam. Konsumsi buah dan sayur di SDN Kota Papandayan signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan SDN KabupatenCibanteng.

 

DAFTAR PUSTAKA

Mohammad A, Madanijah S. 2015. Konsumsi buah dan sayur anak usia sekolah
dasar di bogor. Jurnal Gizi Pangan. 10(1) : 71-76

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *