MITOS ATAU FAKTA : TELUR MENINGKATKAN KOLESTROL ?

Oleh : Alizza Maharanni, Universitas Diponegoro

Telur merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat pada umumnya. Maka tidak heran jika jenis makanan yang memiliki betuk oval ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat.  Telur merupakan makanan konvensional murah dan bergizi tinggi yang mengandung  sumber protein, lemak, dan zat gizi mikro yang memainkan peran penting dalam zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat.  Zat-zat gizi dalam telur sangat mudah dicerna dan dimanfaatkan oleh tubuh. Beberapa nutrisi dalam telur seperti seng, selenium, retinol, dan tokoferol, dapat melindungi manusia dari banyak proses degeneratif atau terjadinya kerusakan atau penghacuran terhadap jaringan atau organ tubuh.

Selain itu, telur merupakan sumber penting lesitin dan kolin yang merupakan komponen fungsional dan struktural dari semua membran biologis, selain itu, lesitin juga dapat meningkatkan sekresi empedu, dan mencegah lambatnya metabolisme dalam kandung kemih.

Komponen lain dari telur yang menarik adalah karotenoid. Karotenoid adalah pigmen alami dalam kuning telur ayam yang memberikan 1% warna kuning dari jumlah lipid telur. Karotenoid dalam telur terdiri dari senyawa karoten dan xanthophylls (berasal dari sumber tanaman, terutama yang berdaun hijau gelap) yang menjadikan telur  sebagai makanan penting dalam sumber karotenoid ini, terutama dalam kasus rendahnya konsumsi sayuran pada beberapa orang di negara barat yang maju. Karotenoid ini ternyata dapat berguna untuk perkembangan retina saraf, antioksidan, anti-inflamasi, dan dianggap berperan dalam mengurangi  degenerasi makula. Makula adalah suatu area kecil di tengah lapisan bagian dalam retina mata dengan jumlah sel batang dan kerucut terbanyak yang berperan penting bagi manusia untuk bisa melihat dengan baik di kala terang maupun gelap, serta pembentukan katarak yang berkaitan dengan usia. Degenerasi makula adalah penurunan penglihatan pusat, yaitu kemampuan dalam memandang lurus ke depan.

Dengan mempertimbangkan segala komponen zat gizi yang terdapat di dalamnya, telur dapat  dianggap sebagai salah satu rekomendasi bergizi dalam diet untuk orang-orang dari segala usia dan juga sangat berguna dalam diet berisiko rendah asupan gizi.

Makanan ini nyatanya dianggap kontroversial, karena kandungan lemak jenuh dan kandungan kolestrolnya yang dikaitkan dengan banyak faktor yang merugikan kesehatan manusia. Hal ini didasarkan pada asumsi masyarakat bahwa konsumsi makanan yang berkolestrol dikaitkan dengan tingginya kadar kolesterol dalam darah dan bisa meningkatkan risiko CVD (Cardio Vascular Disease).

Berdasarkan hasil analisis dari beberapa penelitian menemukan bahwa kenaikan asupan empat butir telur per minggu mungkin bisa meningkatkan 6% risiko CVD dan 29% risiko diabetes. Namun demikian, penelitian baru-baru ini menemukan tidak adanya hubungan yang jelas antara konsumsi telur dan CVD di antara penderita diabetes. Faktanya, konsumsi makanan berkolesterol tidak serta merta akan meningkatkan kadar kolesterol setinggi yang dibayangkan, untuk sejumlah besar peneliti, asumsi tradisional bahwa konsumsi makanan yang berkolesterol dikaitkan langsung dengan kadar kolesterol plasma yang meningkat dan perkembangan CVD di semua individu. Studi klinis telah jelas menunjukkan bahwa perubahan bagian tertendi dalam plasma yang dihasilkan dari konsumsi diet kolesterol faktanya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti etnis, genetik, hormonal dan indeks massa tubuh.

Sebuah fakta bahwa telur merupakan alternatif makanan yang baik untuk orang tua memainkan peran penting dalam peningkatan konsumsi telur bagi mereka. Sayangnya, pada orang tua, pembatasan asupan lemak dan kolesterol  sering mengakibatkan asupan gulanya menjadi rendah. Perubahan komposisi asupan ini dapat merugikan, sehingga menyebabkan peningkatan trigliserida (TG), LDL (Low Density Lipoprotein), dan  umumnya disertai dengan penurunan kadar HDL (High Density Lipoprotein), hal ini dapat dijadikan indikator dari risiko CVD pada orang tua.  Selain itu, konsumsi asupan rendah lemak oleh orang tua mungkin dapat meningkatkan resistensi insulin sebagai konsekuensi dari peningkatan kadar LDL dan TG, serta penurunan kadar HDL. HDL merupakan protein dalam plasma darah yang dapat memperbaiki kerusakan dan mengurangi tingkat kolesterol dalam tubuh. HDL juga populer dengan sebutan kolesterol baik. Bahkan menurut fakta, semakin tinggi kadar kolesterol HDL dalam darah, semakin rendah risiko penyakit arteri koroner yang dapat menjangkit seseorang.

Jadi, apakah mengonsumsi telur dapat meningkatkan kolesterol? Faktanya, hanya 30% dari populasi yang mengalami peningkatan kolestrol dalam mengonsumsi telur. Hal ini pun tergantung oleh faktor lingkungan dan keluarga saja loh! Nah ternyata telur tidak menjadi pemeran utama dalam meningkatkan kolestrol. Jadi jangan terlalu takut dalam mengonsumsi telur ya!

 

DAFTAR PUSTAKA

Jose M. Miranda etc. (2015). Egg and Egg-Derived Foods: Effects on Human Health and Use as Functional Foods. Nutrients, 706-729.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *