Review Jurnal : Pola Konsumsi Energi, Protein, Persen Lemak Tubuh dan Aerobic Endurance Atlet Renang Remaja

Pola Konsumsi Energi, Protein, Persen Lemak Tubuh dan Aerobic Endurance Atlet Renang Remaja
Mohammad Fahmi Rasyidi , Universitas Airlangga

Pendahuluan
Gizi merupakan salah satu faktor biologis yang berpengaruh dalam menunjang prestasi atlet. Prestasi atlet dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor teknis dan non teknis. Faktor teknis terdiri atas kondisi kesehatan, tingkat kebugaran jasmani, makanan yang dikonsumsi, kondisi psikologi, sistem pelatihan, sarana dan prasarana, kesejahteraan dan penghargaan (Kemenkes RI, 2013). Kecukupan zat gizi, terutama zat gizi makro sebagai sumber energi sangat berkaitan dengan pola konsumsi atlet. Untuk menjaga kecukupan gizi perlu dilakukan penataan gizi atlet yang meliputi perbaikan status gizi, pemeliharaan status gizi, pengaturan gizi pertandingan dan pemulihan status gizi (Irianto, 2007) karena jika tata gizi tidak dilaksanakan dengan baik dapat menghambat latihan atlet (Giriwijoyo dan Sidik, 2012).
Selama masa latihan atlet rawan mengalami pola makan yang salah. Penelitian Ferreira et al. (2012), menunjukkan bahwa 34 dari 77 atlet renang perempuan dari beberapa klub renang di Rio de Janeiro, Brazil, positif mengalami Disordered Eating (DE). Hal tersebut membuat seseorang sangat membatasi makan dengan sangat ketat seperti berpuasa dalam waktu panjang, melewatkan waktu makan besar, merangsang diri sendiri untuk muntah, menghindari beberapa jenis makanan tertentu dan menggunakan obat pencahar untuk mengeluarkan kembali apa yang telah dimakan (NEDC, 2014).
Pembatasan makan dengan ketat menyebabkan seseorang mengalami defisit energi. Penelitian pendahuluan pada enam orang atlet renang indah di KONI Jawa Timur menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi energi sebesar 1305 kkal/hari. Menurut Maughan (2000), kebutuhan kalori untuk atlet renang professional sebesar 3400–4000 kkal/ hari. Hal tersebut menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi energi atlet renang indah belum mencukupi kebutuhan energi untuk atlet renang selama masa latihan. Kejadian Disordered Eating (DE) tidak sebanding dengan lemak tubuh remaja. Penelitian Ferreira et al. (2012), menunjukkan bahwa lemak tubuh remaja usia 11–14 tahun lebih tinggi pada remaja yang positif mengalami DE dan remaja usia 15–19 tahun juga memiliki lemak tubuh yang lebih tinggi pada remaja yang positif DE. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dipastikan bahwa lemak tubuh remaja justru lebih banyak pada remaja yang positif mengalami DE. Banyaknya lemak tubuh dapat memengaruhi kinerja seseorang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aerobic power lebih besar pada anak laki-laki yang mempunyai lemak tubuh lebih sedikit dengan usia yang sama (Pařízková, 1977 dalam Pařízková, 2014). Timbunan lemak di dalam tubuh dapat dibakar dengan melakukan aktivitas yang diperuntukkan untuk mengurangi massa lemak seperti olahraga berat secara teratur.
Dalam kesehariannya atlet renang mempunyai tantangan berbeda daripada cabang olahraga lainnya. Tantangan tersebut adalah atlet renang harus selalu menjaga koordinasi dari batang tubuh dan anggota gerak baik atas maupun bawah agar bisa terkoordinasi dengan baik untuk memaksimalkan gerakan tubuh di dalam air. Selain itu atlet renang harus membentuk pondasi tubuh yang kuat agar tetap stabil ketika bergerak di dalam air. Untuk memaksimalkan performa, diperlukan latihan khusus dan teratur baik latihan di air untuk melatih kecepatan renang maupun latihan di darat untuk memaksimalkan komponen tubuh (McLeod, 2010). Dalam melakukan latihan, cadangan energi dipasok dari glikogen otot, namun pada olahraga daya tahan penggunaan glikogen juga menuntut dari glikogen hati akibat penggunaan glukosa darah oleh otot. Bila glikogen otot terus berkurang dan tidak mempunyai cadangan maka penampilan atlet akan memburuk (Giriwijoyo dan Sidik, 2012). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran konsumsi energi, protein, persen lemak tubuh dan aerobic endurance atlet renang di Sidoarjo Aquatik Club.
Metode
Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan rancang bangun cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh atlet yang berlatih di Sidoarjo Aquatik Club sebanyak 80 orang. Sampel penelitian merupakan atlet renang yang memenuhi kriteria yaitu berusia minimal 10 tahun dan pernah mengikuti kejuaraan tingkat regional sejumlah 23 orang yang terdiri dari 10 orang atlet perempuan dan 13 orang atlet laki-laki. Pengumpulan data dilakukan pada Bulan Mei sampai dengan Bulan Juni tahun 2015. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan pengukuran langsung. Wawancara meliputi identitas diri dan pengukuran besar asupan dengan bantuan kuesioner 2×24 jam Food Recall. Pengukuran lemak tubuh menggunakan timbangan BIA (Bioelectrical Impedance Analysis) dan pengukuran aerobic endurance menggunakan metode Critical Swim Speed test dengan dua kali pengukuran, yaitu pengukuran catatan waktu berenang jarak 400 meter dan 50 meter kemudian dilakukan perhitungan dengan rumus 400 50/waktu 400 meter-waktu 50 meter. Hasil Recall dianalisis menggunakan Nutrisurvey 2007. Penyajian data dilakukan dengan tabel distribusi dan frekuensi.
Hasil
Hasil pengukuran besar konsumsi energi, konsumsi protein, rata-rata pengukuran tinggi badan, berat badan, perhitungan Indeks Massa Tubuh, rata-rata pengukuran lemak tubuh dan ratarata perhitungan critical swim speed dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel. Rata-rata Konsumsi Energi, Konsumsi Protein, Pengukuran Antropometri, Lemak Tubuh dan Critical Swim Speed (CSS) Atlet Renang di Sidoarjo Aquatik Club Tahun 2015

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi energi sebesar 2394,8 ± 780 kkal pada atlet laki-laki dan 2125,9 ± 336,6 kkal pada atlet perempuan. Hal tersebut menunjukkan bahwa konsumsi energi atlet renang baik atlet laki-laki maupun atlet perempuan di Sidoarjo Aquatik Club sudah memenuhi standar kebutuhan atlet renang. Penelitian Faruq (2015), menunjukkan bahwa atlet renang di Sidoarjo Aquatik Club rata-rata berlatih sebanyak 4–5 kali setiap minggunya dengan durasi 120 menit. Rata-rata konsumsi protein pada atlet laki-laki sebesar 108,4 ± 38,5 gram dan 85,1 ± 23,9 gram pada atlet perempuan. Rata-rata persentase energi dari Protein pada atlet laki-laki sebesar 19,2 ± 5,7% dan 15,95 ± 3,4% pada atlet perempuan. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa konsumsi protein atlet laki-laki dan atlet perempuan melebihi standar. Rata-rata berat badan pada atlet laki-laki 46,9 ± 10,5 kg dan pada atlet perempuan 42,4 ± 42,4 kg. Rata-rata tinggi badan pada atlet laki-laki 154,1 ± 12,7 cm dan pada atlet perempuan 146,1 ± 10,7 cm. Rata-rata hasil perhitungan Indeks Massa Tubuh pada atlet laki-laki 19,6 ± 2,5 dan pada atlet perempuan 19,4 ± 3,4. Rata-rata Z-score pada atlet laki laki sebesar 0,38 ± 1,95 dan pada atlet perempuan sebesar 0,13 ± 0,90 yang menunjukkan bahwa seluruh atlet masih dalam status gizi normal dengan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur. Rata-rata persen lemak tubuh atlet renang laki-laki 17,8 ± 6,7% dan atlet renang perempuan 24,1 ± 7,3%. Hal ini menunjukkan bahwa lemak tubuh atlet renang di Sidoarjo Aquatik Club melebihi standar lemak tubuh atlet renang.
Pembahasan
Menurut Antonio et al. (2008), kebutuhan energi atlet renang remaja sebesar 2277 kkal untuk atlet laki-laki dan 2071 kkal untuk atlet perempuan. Atlet renang memang harus memenuhi kecukupan energinya karena tingginya aktivitas pada saat latihan. Tingginya aktivitas apabila tidak diimbangi kecukupan energi dapat memperburuk penampilan atlet dikarenakan pada olahraga daya tahan pasokan energi tidak hanya dari glikogen otot tetapi juga dari glikogen hati sehingga atlet membutuhkan cadangan energi yang banyak (Giriwijoyo dan Sidik, 2012). Kecukupan energi bukan merupakan faktor tunggal penentu performa atlet. Menurut Williams (2007), untuk dapat mencapai performa olahraga yang maksimal, atlet juga harus memperhatikan pola latihan yang disiplin selain mencukupi kebutuhan energinya.
Menurut Antonio et al (2008), fungsi dari protein adalah sebagai sumber energi, pembentukan hormone, pembentukan antibody, pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh, pengontrol keseimbangan cairan dan alat transportasi. Burke (2000), mengatakan bahwa masih belum ada standar khusus kebutuhan protein untuk atlet di berbagai Negara. Estimasi kebutuhan protein rata-rata didasarkan pada tinggi rendahnya intensitas latihan. Kebutuhan protein ideal atlet renang sebesar 75 gram untuk atlet laki-laki dan 68 gram untuk atlet perempuan (Antonio et al., 2008) atau sebesar 13% dari total asupan energi. Menurut Antonio et al (2008), kebutuhan protein pada atlet biasanya lebih tinggi daripada non atlet disesuaikan dengan tinggi rendahnya intensitas latihan.
Menurut Maughan (2000), seorang atlet renang setidaknya harus mempunyai lemak tubuh 8-15% untuk laki-laki dan 15–22% untuk perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak laki laki yang mempunyai lemak tubuh lebih sedikit mempunyai Aerobic power yang lebih baik daripada anak laki-laki yang mempunyai lemak tubuh lebih banyak dengan usia yang sama (Pařízková, 1977 dalam Pařízková, 2014). Menurut Anderson (2006), atlet renang mempunyai lemak tubuh yang lebih tinggi daripada olahraga atletik lainnya. Hal ini sejalan dengan penelitian Indrawati (2014), menyebutkan bahwa lemak tubuh atlet senam di Pusat Latihan Daerah Persatuan Senam Indonesia Jawa Timur sebesar 8,6% pada atlet laki-laki dan 16,2% pada atlet perempuan.
Kesimpulan
Besar konsumsi energi dan protein atlet di Sidoarjo Aquatik Club sudah memenuhi standar kebutuhan atlet renang. Lemak tubuh atlet renang cukup tinggi. Oleh karena itu atlet perlu mempertahankan konsumsinya agar tetap sesuai dengan standar kebutuhan atlet renang.
Daftar Pustaka
Muhammad Mukhdor Al Faruq dan Sri Adiningsih. 2015. “Pola Konsumsi Energi, Protein, Persen Lemak Tubuh dan Aerobic Endurance Atlet Renang Remaja”. Departemen Gizi Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Media Gizi Indonesia, Vol. 10, No. 2 Juli–Desember 2015: hlm. 117–122.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *