Hubungan Pola Pemberian MP-ASI dengan Status Gizi Anak Usia 6-23 Bulan di Wilayah Pesisir Kecamatan Tallo Kota Makassar Tahun 2013

BIMGI Volume 3 No 1~ Januari-Juni 2015
REVIEW JURNAL NASIONAL

Oleh: Bella Sintia (UIN Walisongo Semarang) dan Motika Wahyu Ramadhani (Universitas Alma Ata Yogyakarta)
Abstrak:
Latar Belakang: Terdapat kaitan yang sangat erat antara status gizi dan konsumsi makanan. Dalam pemberian makanan anak perlu diperhatikan ketepatan waktu pemberian, frekuensi, jenis, jumlah bahan makanan, dan cara pembuatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola pemberian MP-ASI dengan status gizi anak usia 6-23 bulan.
Metode: Jenis penelitian observasional analitik dengan desain yaitu cross-sectional study. Sampel yaitu semua anak usia 6-23 bulan di wilayah pesisir kecamatan Tallo Kota Makassar yang diambil dengan menggunakan teknik exhaustive sampling didapatkan 150 anak.
Hasil penelitian: Adanya hubungan frekuensi pemberian MP-ASI dengan status gizi (BB/U) didapatkan nilai signifikan (p = 0,000), hubungan umur pemberian MP-ASI pertama kali dengan status gizi anak (BB/U) tidak signifikan (p = 0,748), hubungan pemberian jenis MP-ASI sekarang dengan status gizi anak (BB/U) tidak signifikan (p = 0,620), hubungan jumlah konsumsi energi dengan status gizi anak (BB/U) tidak signifikan (p = 0,570) dan hubungan jumlah konsumsi protein dengan status gizi anak (BB/U) tidak signifikan (p = 0,388).
Kesimpulan: Disarankan agar dilakukan penyuluhan kepada ibu tentang kualitas maupun kuantitas dan pola pemberian MP-ASI yang sesuai dengan usia anak sehingga masalah gizi pada anak dapat dicegah sedini mungkin.
Hasil Review
Pendahuluan
Keadaan status gizi anak di bawah dua tahun merupakan kelompok yang rawan gizi dan akan menentukan kualitas hidup selanjutnya. Pemenuhan gizi merupakan hak dasar anak. Penjelasan tentang makanan pendamping ASI (MP-ASI) dan status gizi balita memunculkan masalah pada aspek hubungan sebab akibat dimana pemberian MP-ASI yang kurang tepat melahirkan status gizi kurang/status gizi buruk.
Beberapa penelitian menyatakan bahwa masalah gizi pada anak disebabkan disebabkan kebiasaan pemberian ASI dan MP-ASI yang tidak tepat (segi kuantitas dan kualitas). Selain itu, para ibu kurang menyadari bahwa sejak anak berusia 6 bulan sudah memerlukan MP-ASI dalam jumlah dan mutu yang baik.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola pemberian MP-ASI dengan status gizi pada anak usia 6-23 bulan. Mengacu uraian di atas, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian MP-ASI pada anak usia 6-23 bulan, seperti umur pemberian MP-ASI pertama kali, frekuensi pemberian MP-ASI, bentuk MP-ASI, serta jumlah konsumsi energi dan protein yang terkandung dalam MP-ASI yang akan mempengaruhi status gizi anak, khususnya yang berada di wilayah pesisir.

Bahan dan metode
Penelitian dilakukan pada seluruh anak usia 6-23 bulan yang berada di wilayah pesisir Kecamatan Tallo Kota Makassar dengan jumlah sebanyak 150 anak. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan cross sectional study. Sampel diambil menggunakan teknik total sampel (exhaustive sampling) kepada 150 anak usia 6-23 bulan. Responden pada penelitian yaitu ibu dari anak usia 6-23 bulan.
Data penelitian diperoleh dengan cara mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil kuisioner mengenai karakteristik responden, sampel, dan juga status gizi sampel. Data sekunder yaitu data jumlah anak usia 6-23 bulan dari data posyandu dan kader posyandu. Data kemudia dianalisis menggunakan program SPSS 16 dalam bentuk tabulasi silang serta uji statistik chi-square untuk mengetahui adanya hubungan variable dependen dan independen.
Hasil
Dari hasil penelitian, karakteristik responden berdasarkan sosial ekonomi menunjukkan usia ibu dari sampel paling banyak pada kategori 16-25 tahun yaitu 78 orang (52%), sedangkan paling sedikit untuk usia>36 tahun yaitu 12 orang (8%). Pendidikan terakhir ibu paling banyak tamat SD yaitu 78 orang (52%), sedangkan paling sedikit lulusan Perguruan Tinggi sebanyak 2 orang (1,3%). Pekerjaan ibu paling banyak sebagai ibu rumah tangga yaitu 134 orang (89,3%), sedangkan paling sedikit PNS/TNI/POLRI yaitu 1 orang (1,7%). Pendapatan keluarga paling banyak Rp. 500.000,00 – Rp. 1000.000,00 yaitu 69 keluarga (46%), sedangkan paling sedikit <Rp. 500.000 sebanyak 27 keluarga (18%).
Berdasarkan status gizi, hasil penelitian menunjukkan 71 anak laki-laki (78%) tergolong gizi baik, sedangkan sebanyak 7 anak perempuan (11,9%) tergolong gizi kurang. Sampel terbanyak yang tergolong gizi kurang yaitu usia 18-23 bulan yaitu 11 anak (42,8%), sedangkan paling sedikit pada sampel usia 12-17 bulan yaitu 5 anak (10,2%). Pada kategori gizi baik, sampel terbanyak pada usia 6-11 bulan yaitu 65 anak (89%), sedangkan paling sedikit umur 18-23 bulan yaitu 16 anaj (57,1%).
Berdasarkan umur pemberian MP-ASI pertama kali, sebanyak 27 anak (18%) memiliki status gizi kurang. Pada frekuensi pemberian MP-ASI, data menunjukkan bahwa sebanyak 26 anak (38,2%) yang berstatus gizi kurang mendapatkan frekuensi pemberian MP-ASI yang kurang. Pada jenis MP-ASI, data menunjukkan bahwa 62 anak (41,3%) mendapatkan MP-ASI dengan konsistensi yang tepat, tetapi hanya 53 anak yang memiliki status gizi baik. Pada konsumsi energi, sebanyak 123 anak (82%) mengonsumsi energi kurang dari rekomendasi AKG, tetapi hanya 24 anak (19,5%) yang memiliki status gizi kurang. Anak yang mengonsumsi energi sesuai dengan rekomendasi AKG yaitu 27 anak (18%), tetapi hanya 3 anak (11,1%) yabg memiliki status gizi kurang. Pada jumlah konsumsi protein, data menunjukkan sebanyak 119 anak (79,33%) mengonsumsi protein kurang dari rekomendasi AKG, tetapi hanya 24 anak (20,1%) yang memiliki status gizi kurang. Anak yang mengonsumsi protein sesuai dengan rekomendasi AKG yaitu 31 anak (20,67%), tetapi hanya 3 anak (9,7%) yang memiliki status gizi kurang.

Pembahasan
Berdasarkan penelitian, tidak ada hubungan signifikan antara umur pemberian MP-ASI pertama kali dengan status gizi pada anak usia 6-23 bulan dengan kategori BB/U. Hasil data menunjukkan sebanyak 18% anak usia 6-23 bulan yang berstatus gizi kurang mendapatkan MP-ASI pada usia yang tepat. Pemberian MP-ASI yang tepat umumnya diberikan 3 kali dalam sehari. Frekuensi pemberian MP-ASI yang berlebihan akan mengakibatkan terjadinya diare. Hasil data menunjukkan adanya hubungan signifikan antara frekuensi pemberian MP-ASI dengan status gizi anak usia 6-23 bulan dengan kategori BB/U. Mayoritas masyarakat di wilayah pesisir Tallo memiliki pengahasilan sebesar Rp. 500.000,00 – Rp. 1000.000,00. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi kemampuan dalam pemberian MP-ASI sesuai dengan usia dan kebutuhan gizinya.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara jenis MP-ASI dengan status gizi anak usia 6-23 bulan. Terdapat ibu yang memberikan anak bubur beras atau bubur formula sebagai MP-ASI, tetapi tetap mengalami status gizi yang tidak baik. Selanjutnya, data menunjukkan tidak adanya hubungan siginifikan antara kecukupan jumlah konsumsi pemberian MP-ASI dengan status gizi anak usia 6-23 bulan. Berdasarkan jumlah konsumsi protein, tidak ada hubungan signifikan antara kecukupan jumlah konsumsi protein dari pemeberian MP-ASI dengan status gizi anak usia 6-23 bulan meskipun sampel rata-rata mengonsumsi protein kurang dari AKG. Makanan tambahan yang baik adalah makanan yang kaya akan energi, protein, dan zat gizi mikro (terutama zat besi, kalsium, zink, vitamin, vitamin C, dan asam folat), bersih lalu aman, tidak terlalu pedas maupun asin, mudah dikonsumsi oleh anak serta harganya terjangkau dan mudah untuk disiapkan.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan umur pemberian MP-ASI pertama kali, pemberian jenis MP-ASI, dan juga kecukupan jumlah konsumsi protein terhadap status gizi pada anak usia 6-23 bulan berdasakan kategori BB/U, sedangkan pada frekuensi pemberian MP-ASI terdapat hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut sehingga permasalahan gizi pada anak dapat diketahui dan dicegah serta diadakannya penyuluhan kepada ibu mengenai kualitas maupun kuantititas dan juga pola pemberian MP-ASI yang sesuai dengan usia anak.

Referensi :
Octaviani, R. E. S. (2015). Hubungan Pola Pemberian MP-ASI dengan Status Gizi Anak Usia 6-23 Bulan di Wilayah Pesisir Kecamatan Tallo Kota Makassar Tahun 2013. BIMGI, 3(1), 35–42.

Caption IG:
[REVIEW JURNAL BIMGI]
Halo Nutriple!!
Pemberian MP-ASI pada balita usia 6-23 bulan harus diberikan dengan frekuensi, jenis, jumlah bahan makanan, dan cara pemberian yang tepat. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa anak yang diberi MP-ASI dengan tidak tepat dapat mempengaruhi status gizinya. Kok bisa? Baca informasi lengkapnya di link website berikut.

Departemen Pendidikan dan Profesi
Bella Sintia (UIN Walisongo Semarang)
Motika Wahyu Ramadhani (Universitas Alma Ata Yogyakarta)

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.