PopArt: Perlukah Ada Ahli Gizi di Indonesia dan Keadaan Mereka Saat Ini di Indonesia

Halo semua! Di pertengahan Januari ini kita mau berbagi kepada kalian tentang lulusan ahli gizi di Indonesia dan keadaan sarjana ahli gizi di Indonesia. Mengapa? Karena beberapa masyarakat kita pasti masih klise peran ahli gizi dan apa pentingnya seorang ahli gizi dan apakah ahli gizi hanya mengurus kasus gizi buruk dan mengurus masyarakat yang miskin?

Saat ini beberapa negara sedang menghadapi permasalahan double burden nutrition  yakni dimana kasus gizi buruk sama banyaknya dengan kasus gizi lebih atau obesitas (Orang yang mengalami obesitas selain dapat menurunkan produktifitasnya juga berisiko terkena penyakit degeneratif). Terkait cita cita Dunia yang diumumkan oleh PBB tentang SDGS ( http://sdgsindonesia.or.id/) yang berusaha meningkatkan kualitas SDM dengan melakukan perbaikan gizi. Sehingga ahli gizi sedang melakukan cara untuk dapat meningkatkan kesehatan melaui kampanye hidup sehat dan pola makan yang baik dan benar. Akan tetapi jalan yang ditempuh oleh seorang ahli gizi agar dapat tercapainya SDGS tentu tidak mudah di Indonesia, dari belum sejajarnya kedudukan ahli gizi dengan tenaga kesehatan lain hingga persepsi masyarakat yang lebih mengandalkan obat dan dokter dalam melakukan penyembuhan secara cepat. Padahal jika di negara maju mereka lebih mengandalkan ahli gizi agar terhindar dari penyakit dan berpandangan bahwa obat adalah jalan terakhir dalam melakukan penyembuhan, karena bukankah obat selalu memiliki efek samping karena konsumsinya lalu mengapa beberapa dari kita lebih suka memakan obat yang banyak disbanding makan yang sehat?.  Sebagai seorang ahli gizi, selain harus meningkatkan kesehatan juga harus selalu berusaha untuk membuat masyarakat disekitarnya mengerti manfaat dari pola hidup yang sehat dan makan makanan yang sehat.

Let your food be your medicine (Hipocrates ).

HASIL WAWANCARA ONE DAY CLOSER OLEH NIKEN SALINDRI S.GZ

Artikel ini dibuat berdasarkan hasil One day Closer ILMAGI yang berisikan tentang pertanyaan anggota ILMAGI kepada alumni sarjana gizi yang yang sudah tersebar di seluruh instansi untuk memberikan pengetahuan tentang perkembangan profesi ahli gizi di Indonesia

 S : Konsep awal yang harus kita pahami bersama adalah keberadaan kita saat ini adalah jawaban besar dari masalah bangsa terkait kualitas Sumber Daya Manusia. Kita ada bukan semata karena negara lain punya, tapi karena negara kita butuh. Bukan juga karena kita butuh kerjaan untuk hidup, tapi kita ada untuk “menghidupkan” yang hidup. So, saya di sini mau banget kalian punya orientasi semangat belajar yang tepat, selamanya. Gimana? apakah kita sudah bisa punya semangat yang sama soal apa yang sedang dan akan kita tempuh?

Q :            Bagaimana pendapat kakak tentang bekunya pendidikan profesi gizi (RD) di Indonesia sekarang? karena menurut saya, memang bukan masalah profesi ataupun praktik, tapi dengan bisa jadinya kita sebagai RD kita bisa membuka praktik dimanapun tanpa terikat oleh instansi, sehingga bisa lebih menjangkau daerah daerah yang memang membutuhkan, apalagi prodi gizi ini masih tergolong baru dan keberadaan ahli gizi masih bisa dibilang sedikit jika dibandingkan dengan profesi lain. Memang tidak harus menjadi RD untuk menjangkau wilayah tersebut, terutama daerah pedalaman dimana sanitasi dan pengetahuan gizi kemungkinan besar rendah, tetapi kan akan lebih leluasa bagi kita untuk mengabdi ke masyarakat jika bisa membuka praktik sendiri

BACA LAGI UNTUK MENGETAHUI RD

Info Gizi: Bagaimana Kabar Uji Kompetensi dan Profesi Gizi di Indonesia??

A : Siapsiap, sekarang saya akan mulai buka masalah “ini”. Dulu, tenaga gizi sudah terasa sangat dibutuhkan. Namun kualitas SDM dan sistem pendidikan belum seperti sekarang. Maka dibentuklah sementara, jawaban bangsa yang lebih applied ilmunya dalam jenjang D3. Berkembanglah mereka hinga sekarang di tataran pejabat juga kebanyakan atau hampir semuanya adalah mantan D3.

 

Lah terus tapi kenapa ada dr. SpGK (Spesialis Gizi Klinis)?

 

A : Tantangan kesehatan semakin kompleks kemajuan jaman semakin berkembang. Maka, mereka menganggap bahwa D3 yang sudah ada dirasa tidak tepat untuk menjawab masalah tersebut. Maka dibentuklah Sarjana Gizi, yang bisa manajerial, kuat substansi ilmu, orientasi pencegahan dan masa depan bangsa. RD saat ini masih belum bisa karena terkendala teknis ditataran petinggi.  Hal yang memang perlu dilakukan agar kedudukan seorang ahli gizi kuat adalah selalu melakukan advokasi.

 

Q :            Kelebihan ahli gizi dibandingkan SPGK? Profesi gizi itu sebenarnya kalau digambarkan dalam masyarakat tuh selain jadi ahli gizi bisa jadi seperti apa ya kak? Karna jujur ya aku aja bingung. Hal pertama yang sering aku bilang adalah aku ahli gizi. Menurut pandangan kakak gimana cara menggambarkan S1 gizi tanpa nyaru dengan profesi dokter gizi atau D3 gizi?

 

A: ahli gizi tentu saja lebih mengerti tentang pangan dan perencanaan menu yang cocok untuk semua orang dengan kondisi apapun. Dilapangan mereka menerapkan apa yang kita susun. S1: Bisa manajerial, kuat substansi ilmu, orientasi pencegahan dan penyiapan SDM masa depan bangsa. Aku pernah ikut kuliah umum yang pembicaranya ahli gizi Sardjito, katanya keunggulan ahli gizi tuh tau di managemen dapur, harga BM, dan pengolahannya. Sedangkan SPGK ga tau managemen dapur gizi di rumah sakit.

 

Q:  Mau tanya kalau melihat di peraturan perundang udangan, ada poin dimana pada kondisi tertentu mereka yang menyandang gelar RN bisa menggantikan peran R.D di yayasan kesehatan, Nah kok bisa gitu? Terus teknisnya gimana? Apa ada adjustment tertentu?

Lalu, ranah bagi ahli gizi yang terjun langsung ke masayaarakat, apakah juga mencakup food safety kak?

 

A: karena asalnya sama, Gizi STRnya harusnya 2014 udah ada ujiannya, tapi kendala teknis di petinggi sangat sulit. Bahkan SOAL aja belum di acc. Tapi pelan-pelan kita kawal terus. Foodsafety, kalo di UU masuk juga ke Kementerian Pertanian. Jadi ahli gizi bisa bekerja di food safety seperti BPOM.

 

Q : Menurut Kaka gimana sih ranah kerja ahli gizi di masyarakat? Karena terkadang di beberapa desa ahli gizi seperti kurang dianggap dan masyarakat blm terlalu mengenal profesi gizi sementara mereka disana sangat mendewakan bidan desa.

A : Kuncinya pede aja sama belajar, every little step counts by the time. Pergi ke daerah, kenalin diri. Kongkrit. Aku mau pesen, kalo bukan kita siapa lagi.

Q :            Saya mau tanya kak. Dalam memberikan manfaat kepada masyarakat yang punya masalah terkait gizi seringkali susah karena pada dasarnya masyarakat memandang dokter yang kemungkinan SpGK tersebut lebih ahli dalam hal menanganinya. Lalu bagaimana cara kita sebagai ahli gizi mampu untuk meyakinkan masyarakat dan memberikan manfaat kita yang sesungguhnya kita lebih memahami gizi dibandingkan SpGK tersebut? Selain semangat dan berjuang yang tadi sudah Kak Niken sampaikan. Apa yang harus kita lakukan dalam membantu masyarakat mengentaskan permasalahan gizinya kalo paradigma masyarakatnya sudah seperti itu?

 

Q : Cara paling simple buat kita agar bisa memotivasi orang lain gimana kak? Soalnya banyak sih aku nemuin temen-temen ku yang kuliah gizi yaa kuliah aja gitu gak tau mau kemana dan ngapain nantinya hehehe

 

A : Lakukan saja, sebanyak-banyaknya. Kita ga bisa nyalahin masyarakat, tapi kita bisa bangun kualitas diri kita sebagai seorang sarjana gizi 🙂

 

A :            Cara ampuh bikin semangat adalah bikin langkah selanjutnya. Bikin rencana!

Yang membedakan statusnya. Tapi jangan perlu terlalu sedih soal status, semua dalam proses. Rencana hidup, misal mau sekolah lagi. Cari yang terbaik, liat standarnya, berusahalah melampauinya. Inget kerja cerdas 😀

 

Q : Aku juga sering denger kita belum terlalu di akui. Padahal diluar negeri sana malah yang booming ahli gizi, tidak ada yang namanya SpGK. Kami sebagai penerus ahli gizi apa si yang harus kita siapkan?

 

Q : Kak niken, dosen aku pernah bilang gini salah satu masalah ahli gizi ialah belum adanya ahli gizi yang BB ideal (mungkin padangan umum orang), tidak melihat dari status gizinya. Jadi ketika orang itu berhadapan/konsultasi dengan ahli gizi yang dirinya sendiri aja (maaf) misal obesitas, orang yang konsul itu kan ngga percaya dengan ahli gizi tsb. Menurut kakak sendiri, gimana mengatasi masalah ini?

 

A : Iyaa betul. Intinya sama, jadilah orang gizi yang sekeren-kerennya :”) Minta komitmen, hitung dan pantau dengan baik. Penting juga jadi ahli gizi yang bisa memotivasi.

Keterbatasan bangsa di masa lampau emang ga bisa kita ubah, tapi masa depan bisa bangeeeet. Jangan sedih

 

Q : Aku sempet diceritain sm temen, katanya kalau D3 gizi lebih gampang kerjanya karena yang dilihat soft skill.

A :            D3 lebih mudah? Berarti kita sebagai sarjana masih kurang eksplor apa yang bisa kita lakukan. Jangan terjebak pada framing media atau masyarakat, yang paham itu kita. Percayalah 🙂

 

Q : Terima kasih banyak kak Niken atas waktunya dan memberikan calon2 ahli gizi muda seperti kami wejangan yang sangat sangat luar biasa semoga kami semua bersama2 bisa lebih dan lebih semangat lagi dalam proses berusaha memperbaiki kualitas sebagai ahli gizi dan memperjuangkan profesi kita bersama.

Conclusion :

Ahli gizi yang dulu dan sekarang belum cukup  dipandang perannya oleh masyarakat, akan tetapi belum tentu di masa depan memiliki keadaan yang sama, zaman selalu berubah dan orang orang yang mengerti manfaat ilmu gizi  tidak akan pernah  diam agar masyarakatnya dapat sehat. Bagi kami selama masih ada orang yang sakit, gemuk, dan memiliki pola hidup yang buruk, maka disanalah dibutuhkan ahli gizi. Banyak tantangan yang memang dihadapi oleh ahli gizi di Indonesia saat ini, karena tugas sarjana gizi selain menggizikan Indonesia juga harus merubah persepsi masyarakat Indonesia. Bagaimanapun, ilmu pengetahuan memang perlu disebarluaskan secara berlanjut agar dapat membuka fikiran masyarakat demi tercapainya manfaatan ilmu pengetahuan tersebut, bahkan ilmu kedokteran pun yang sekarang sangat prestis dahulunya diremehkan dikarenakan masyarakatnya lebih percaya kepada dukun, begitu pula dengan ilmu gizi yang harapannya di masa depan menjadi ilmu modern kesehatan.

Sekian terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *