REVIEW JURNAL INTERNASIONAL : Nutritional Characteristics of The Japanese Diet: Across-Sectional Study of The Correlation Between Japanese Diet Index and Nutrient Intake Among Community-Based Elderly Japanese

Nutrition Jurnal International No. 57 – June 2018 page 115-121

REVIEW JURNAL INTERNASIONAL

Nutritional Characteristics of The Japanese Diet: Across-Sectional Study of The Correlation Between Japanese Diet Index and Nutrient Intake Among Community-Based Elderly Japanese

 

Oleh:

Hidayat Nur Rohman ( UIN Walisongo ) dan Olla Wilda Nasyiba (UPN Veteran Jakarta)

 

Abstrak:

Obyektif: Kualitas gizi keseluruhan dari diet orang Jepang belum pernah dinilai sebelumnya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kualitas diet orang Jepang dan asupan zat gizinya.

Metode: Melakukan studi cross-sectional terhadap 1.129 orang Jepang berusia > 70 tahun. Kebiasaan makan dinilai dengan menggunakan FFQ. Hasil utama adalah asupan zat gizi (12 komponen indeks NRF 9.3). Overall Nutrient Adequacy (ONA) digunakan untuk menilai potensi kepadatan zat gizi. Analisis korelasi dilakukan untuk membandingkan Japanese Diet Index (JDI) dan asupan zat gizi, selain itu analisis regresi ganda digunakan untuk mensimulasikan modifikasi JDI (MJDI).

Hasil: JDI berkorelasi positif dengan 9 zat gizi dan berkolerasi negatif dengan 2 zat gizi (lemak jenuh dan gula). JDI secara signifikan berkorelasi dengan skor ONA (koefisien Spearman = 0,248). MJDI yang ditentukan oleh koefisien untuk 7 jenis makanan, secara signifikan berkorelasi dengan skor ONA (koefisien Spearman = 0,515). Namun, JDI dan MJDI berkorelasi dengan asupan natirum yang lebih tinggi.

Kesimpulan: Penemuan ini menunjukkan bahwa kualitas diet Jepang yang ditentukan oleh skor JDI dikaitkan dengan asupan zat gizi yang lebih baik. Namun, pola makan ini tampaknya juga terkait dengan asupan natrium yang tinggi.

 

Hasil Review

Pendahuluan

Diet Jepang diharapkan memiliki manfaat kesehatan yang telah berkontribusi pada umur panjang populasi di Jepang. Penelitian sebelumnya melaporkan pola diet Jepang dikaitkan dengan risiko lebih rendah untuk kematian atau kesakitan (seperti disabilitas, demensia, dan depresi). Secara kandungan gizi ada yang berpendapat diet Jepang ini dicirikan dengan kandungan lemak yang rendah (terutama lemak jenuh), namun ada beberapa yang berpendapat bahwa kandungan gizinya seimbang. Secara keseluruhan belum diselidiki secara langsung.

Untuk mengetahui karakteristik diet Jepang ini, penelitian ini memeriksa hubungan antara indeks diet Jepang dan kepadatan gizinya. Japanese Diet Index (JDI) digunakan untuk menilai kepatuhan terhadap pola makan biasa di Jepang. Indeks ini ditentukan oleh 9 jenis makanan (nasi, sup miso, ikan, sayuran hijau dan kuning, rumput laut, acar sayuran, teh hijau, daging sapi dan daging babi, dan kopi). Namun, karena indeks ini untuk menilai kepatuhan terhadap pola diet, indeks ini dapat mencakup komponen yang direkomendasikan maupun yang tidak, contohnya tinggi natrium yang merupakan salah satu kekurangan diet orang Jepang.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara kepatuhan terhadap pola makan orang Jepang dan asupan gizi utama. Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis hubungan antara skor JDI dan asupan gizi. Peneliti juga melakukan analisis untuk menstimulasikan Modified Japanese Diet Index  (MJDI) yang akan memprediksi kecukupan gizi secara keseluruhan.

Bahan dan Metode

Desain Study

Penelitian dilakukan pada orang tua usia > 70 tahun sebanyak 1.129 peserta di Jepang yang tinggal di distrik Tsurugaya, daerah pinggiran Kota Sendai, Jepang Utara. Untuk analisis hubungan antara JDI dan penanda darah dari stres oksidatif dan peradangan, peneliti mengeluarkan 26 individu yang tidak memenuhi persyaratan dan mempunyai total akhir 1.103 peserta. Penelitian ini dilakukan pada Juli dan Oktober tahun 2002.

Penilaian Diet

Kebiasaan pola makan dinilai menggunakan kuesioner frekuensi makanan yang disebut Brief Self-administrated Diet History Questionnaire (BDHQ). BHDQ terdiri dari 58 jenis kuesioner yang mencatat frekuensi konsumsi makanan tertentu tetapi bukan ukuran porsi. Dirancang untuk memperkirakan asupan makanan dari 58 jenis makanan dan minuman selama 1 bulan sebelum penelitian. BDHQ terdiri dari 5 bagian:

  1. Frekuensi asupan makanan dan minuman non-alkohol
  2. Asupan harian nasi dan sup miso
  3. Frekuensi minuman dan jumlah minum untuk minuman beralkohol
  4. Metode memasak yang biasa digunakan
  5. Perilaku diet umum

Memperoleh perkiraan jumlah asupan dari jenis makanan, energi, dan zat gizi yang dihitung menggunakan algotritma komputer ad hoc untuk BDHQ.

Indeks Diet Jepang

Berdasarkan penelitian sebelumnya, untuk perhitungan skor JDI, peneliti mengidentifikasi dari 9 jenis makanan yang sebelumnya sudah disebutkan. Untuk setiap 7 komponen (nasi, sup miso, ikan dan kerang, sayuran hijau dan kuning, rumput laut, acar sayuran, dan teh hijau) yang biasa dikonsumsi. Peserta mendapatkan 1 poin jika asupan lebih dari atau sama dengan median jenis kelamin tertentu. Masing-masing dari 2 komponen (daging sapi dan babi dan kopi) yang biasa tidak konsumsi mendapatkan 1 poin jika asupan di bawah median khusu jenis kelamin. Skor JDI berkisar antara 0 sampai 9 dengan skor tinggi menunjukkan kesesuaian pola makan yang lebih besar.

Asupan Gizi dan Skor Kecukupan Gizi

Hasil utama adalah 12 komponen dalam indeks NRF 9.3 (indikator kepadatan zat gizi). Indeks ini didasarkan pada 9 zat gizi bermanfaat (protein, serat, vitamin A, C, dan E, kalsium, zat besi, kalium, dan magnesium) dan tidak ada 3 zat gizi yang harus dibatasi (lemak jenuh, natrium, dan gula). Peneliti menerapkan skor overall nutrient adequacy (ONA) sebagai kriteria eksternal untuk membandingkan potensi kepadatan zat gizi antara skor JDI dan skor MJDI, dan sebagai nilai teoritis untuk menentukan MJDI. Ketika asupan zat gizi dihitung, setiap komponen (kecuali lemak jenuh) telah distandarisasi dengan asupan energi sesuai jenis kelamin. Skor ONA dihasilkan sebagai nilai rata-rata untuk 11 rasio kecukupan gizi. Skor ONA yang tinggi mewakili pola makan yang memiliki kepadatan zat gizi tinggi.

Biomarker

Dalam penelitian ini, 8-iso-prostaglandin (PG) F2 α sebagai penanda stres oksidatif dan protein C-reaktif (CRP) sebagai penanda inflamasi.

Analisis Statistik

  1. Uji Spearman untuk menilai hubungan antara skor JDI dan skor ONA
  2. Analisis regresi ganda untuk menstimulasikan MJDI
  3. Uji Spearman untuk menilai hubungan antara indeks pola makan Jepang dan asupan gizi
  4. Analisis regresi ganda untuk menilai hubungan antara JDI dan biomarker

Hasil

Dari penelitian yang memiliki tujuan untuk menguji kualitas diet jepang dengan asupan nutrisi harian yang menggunakan Subjek penelitian terdiri dari 471 laki-laki (41,7%) dan 658 wanita (58,3%), pada lansia jepang didapatkan hasil sebagai berikut : Kualitas makanan jepang dengan Japanese Diet Index (JDI) memiliki hubungan positif dengan Sembilan jenis nutrisi penting  yang diperlukan tubuh  seperti protein; serat; vitamin A, C, dan E; kalsium; besi; kalium; dan magnesium, dan berkorelasi negatif dengan dua nutrisi (lemak jenuh dan gula). Diet Jepang juga memiliki hubungan dengan skor Overall Nutrient Adequacy (ONA) yang baik (koefisien Spearman = 0,248). Modified Japanese Diet Index (MJDI) yang ditentukan oleh koefisien untuk tujuh jenis nutrisi, secara signifikan juga memiliki kualitas yang baik dengan skor Angka Kecukupan gizi yang baik (koefisien Spearman = 0,515). Namun, kualitas Diet Jepang pada Japanese Diet Index (JDI) dan Modified Japanese Diet Index (MJDI) sama sama memiliki asupan natrium yang tinggi.

Pembahasan

Dalam studi cross-sectional ini, Kualitas Diet Jepang dilihat dari Japanese Diet Index (JDI) berkorelasi positif dengan kesembilan nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh, dan berkorelasi negatif dengan dua nutrisi (lemak jenuh dan gula), kecuali Natrium. Selain itu, peneliti menemukan hubungan baik yang signifikan antara diet jepang dan angka kecukupan gizi. Ini menunjukkan bahwa mengikuti diet Jepang baik di aplikasikan, kecuali kandungan natrium yang memiliki nilai tinggi. Hal ini yang memberikan dampak negative bagi kualitas Japanese Diet Index (JDI) karena memiliki kandungan natrium yang tinggi.

Kandungan natrium yang tinggi telah ditunjukkan sebagai salah satu kelemahan diet orang Jepang. Oleh karena itu, perlu memodifikasi diet agar lebih mewakili asupan nutrisi secara menyeluruh. Berdasarkan hal tersebut peneliti kemudian melakukan Modified Japanese Diet Index (MJDI) dengan bahan makanan penukar agar mengurangi asupan natrium melalui asupan sayur hijau yang lebih tinggi dan asupan ikan serta kerang yang lebih rendah. Modifikasi diet jepang ini lebih menyarankan hidangan sayur campuran seperti Makanan satu set gaya Jepang tradisional ichiju-sansai yang lebih menguntungkan secara nutrisi. Selain itu modifikasi diet ini juga dikaitkan dengan stress oksidatif yang lebih rendah.

Namun, walaupun modifikasi diet telah diterapkan, hasil yang menunjukkan kandungan natrium yang tinggi tidak berubah, meskipun sup miso yang dianggap sebagai sumber asupan garam dalam makanan Jepang tidak di sertakan dalam modifikasi diet. Sebuah penelitian di Jepang baru-baru ini melaporkan bahwa “bumbu” adalah kelompok makanan utama yang berkontribusi terhadap total asupan natrium, dengan bumbu seperti garam atau kecap yang menyumbang > 60% dari total asupan natrium harian. Oleh karena itu, perubahan penggunaan bumbu dapat secara signifikan membantu menurunkan kandungan natrium pada makanan Jepang, dari pada mengubah jenis makanan tertentu.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik kualitas diet orang jepang yang dikaitkan dengan jenis makanannya pada lansia memiliki asupan nutrisi harian yang baik dan dapat di aplikasikan. Namun, kualitas diet ini juga memiliki asupan natrium yang perlu diperhatikan.

 

Referensi

Y, Tomata et al. 2019. Nutritional Characteristics of The Japanese Diet: Across-Sectional Study of The Correlation Between Japanese Diet Index and Nutrient Intake Among Community-Based Elderly Japanese. Nutrition Jurnal International, No. 57 – June 2018, page 115-121.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *