Hubungan Antara Pengetahuan Gizi, Aktivitas Fisik, dan Intensitas Olahraga dengan Status Gizi

Jurnal Biomedik 2020 Vol 12, No 2, Hal 110 – 116 

 

REVIEW JURNAL 

Oleh : Aulia Marsha Hakim (Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA) dan Kirana Sekar Ningrum (UPNVJ) 

 

Abstrak

Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi, aktivitas fisik dengan intensitas olahraga dan status gizi. 

Metode : Metode yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Penentuan sampel dilakukan secara total sampling berjumlah 118 pemuda Jemaat GMIM Kanaan Pinabetengan. Analisis data menggunakan uji koefisien korelasi spearman. 

Hasil : Hasil penelitian menunjukkan status gizi paling banyak kategori normal 43.3%, gemuk 29.9%, kurus 26.9%. Pengetahuan gizi kategori baik 56.7%, kurang baik 43.3%. Aktivitas fisik pada kategori cukup 53.7%, kurang 46.3%. Intensitas olahraga kategori baik 55.2%, kurang baik 44.8%. Uji spearman antara pengetahuan gizi dengan status gizi diketahui memiliki hubungan, diketahui nilai signifikan (2tailed) yaitu 0.003. Kekuatan hubungan moderat arah positif. Uji spearman antara aktivitas fisik dengan status gizi diketahui memiliki hubungan, diketahui nilai signifikan (2tailed) yaitu 0.003. Kekuatan hubungan moderat arah positif. Uji spearman antara intensitas olahraga dengan status gizi diketahui tidak memiliki hubungan. 

Kesimpulan : Terdapat hubungan antara pengetahuan gizi, aktivitas fisik dengan status gizi. Tidak ada hubungan antara intensitas olahraga dengan status gizi pada pemuda Jemaat GMIM Kanaan Pinabetengan.

 

Hasil Review:

 

Pendahuluan

Status gizi merupakan salah satu faktor penyebab baik tidaknya kebugaran jasmani yang dimiliki oleh seseorang. Kondisi seseorang akibat mengkonsumsi makanan dan zat-zat gizi dapat digolongkan menjadi tiga yaitu gizi buruk, gizi baik, dan gizi lebih yang kemudian disebut dengan istilah status gizi. 

Aktivitas fisik menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi. Asupan energi yang berlebih dan tidak diimbangi dengan pengeluaran energi yang seimbang akan menyebabkan terjadinya penambahan berat badan (obesitas). Selain itu, keberadaan intensitas olahraga juga menjadi hal penting untuk mempengaruhi status gizi. 

 

Bahan dan Metode

Penelitian menggunakan desain penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian potong lintang, yang dilaksanakan di Desa Pinabetengan pada bulan Mei tahun 2020. Populasi yang dituju adalah seluruh pemuda Jemaat GMIM Kanaan Pinabetengan. Sampel yang digunakan adalah total populasi berjumlah 118 pemuda dengan menggunakan teknik pengambilan sampel purposive. Uji yang digunakan adalah spearman. 

Pengukuran status gizi menggunakan Timbangan Badan dan Tinggi Badan kemudian dihitung indeks massa tubuh (IMT/U). Pengukuran pengetahuan gizi menggunakan kuesioner yang digunakan oleh Agnes Grace Florence tahun 2017. Aktivitas fisik dilakukan pengukuran menggunakan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) yang dikembangkan oleh WHO. 

 

Hasil

Hasil penelitian menunjukkan status gizi paling banyak kategori normal 43.3%, gemuk 29.9%, kurus 26.9%. Pengetahuan gizi kategori baik 56.7%, kurang baik 43.3%. Aktivitas fisik pada kategori cukup 53.7%, kurang 46.3%. Intensitas olahraga kategori baik 55.2%, kurang baik 44.8%. 

 

Pembahasan

Banyak penyebab yang harus dinilai dan diperhatikan sehingga bisa terjadi permasalahan gizi tersebut. Secara umum penyebab terjadinya permasalahan tersebut seperti umur, genetik, aktivitas fisik, tingkat pengetahuan, intensitas olahraga, kebiasaan makan, budaya dan lain-lain.

Penelitian ini mendapatkan bahwa status gizi dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, yakni keturunan gemuk. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa subyek dengan keturunan gemuk memiliki kecenderungan untuk mengalami status gizi berlebih. Kejadian status gizi lebih yang mencapai 11,5% sangat beresiko untuk terjadinya penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, hipertensi, gangguan ginjal, gangguan sendi, dan tulang, serta gangguan kantung empedu dan kanker.

Aktivitas fisik yang cukup pada responden pemuda sebagian besar disebabkan karena aktivitas bekerja dan aktivitas saat bepergian/rekreasi. Karena mayoritas responden pemuda telah bekerja dan sering berpergian sehingga aktivitas fisik ini yang paling tinggi. Berdasarkan karakteristik jenis kelamin yang paling banyak melakukan aktivitas cukup ialah laki-laki.

Manfaat aktivitas fisik pada status gizi salah satu untuk menjaga berat badan yang ideal. Pembahasan ini dikatakan aktivitas fisik bisa meningkatkan metabolisme tubuh yang menyebabkan cadangan energi yang tertimbun dalam tubuh berupa zat lemak dapat terbakar sebagai kalori.

Intensitas olahraga sangat berpengaruh pada permasalahan kesehatan yang dipengaruhi oleh status gizi seperti obesitas. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Astharie Zulkarnain pada karyawan usia produktif. Pada penelitiannya ditemukan hubungan bermakna antara kebiasaan berolahraga dengan obesitas abdominal dengan nilai p=0.037 (p=<0.05). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang mengungkapkan adanya hubungan signifikan antara sudut sit up dengan perubahan lingkar perut. Juga bahwa olahraga yang rutin dapat menyebabkan pengurangan jaringan lemak yang cukup besar dan signifikan. Selain itu, olahraga dapat meningkatkan massa jaringan bebas lemak serta dapat meningkatkan oksidasi lemak tubuh sehingga dapat menurunkan simpanan lemak tubuh di jaringan adiposa.

 

Kesimpulan:

Terdapat hubungan antara pengetahuan gizi dengan aktivitas fisik dan status gizi. Tidak terdapat hubungan antara intensitas olahraga dan status gizi.

 

Sumber:

Roring, N., Posangi, J., & Manampiring, A. (2020). Hubungan antara pengetahuan gizi, aktivitas fisik, dan intensitas olahraga dengan status gizi. Jurnal Biomedik: JBM, 12(2), 110. doi: 10.35790/jbm.12.2.2020.29442 

Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.