FREKUENSI SENAM AEROBIK INTENSITAS SEDANG BERPENGARUH TERHADAP LEMAK TUBUH PADA MAHASISWI IPB

Oleh : Maryam Novitasari – STIKBA JAMBI

PENDAHULUAN

Berat badan berlebih atau yang sering disebut juga obesitas merupakan salah satu faktor risiko penyakit degeneratif. Obesitas berhubungan dengan penurunan level aktivitas fisik, dimana aktivitas fisik orang kurus akan bertolak belakang dengan orang yang mengalami obes (Slentz et al. 2004). Aktivitas fisik yang rutin dapat memberikan dampak positif bagi kebugaran tubuh seseorang. Senam aerobik adalah aktivitas fisik ringan yang paling baik karena hampir seluruh anggota tubuh bergerak. Ada 2 macam intensitas dalam senam aerobik yaitu intensitas sedang (low impact) dan intensitas tinggi (high impact).

Banyak penelitian yang dilakukan terhadap pengaruh intesitas senam aerobik seperti penelitian Dehghan (2009) yang menunjukkan adanya pengaruh pemberian latihan aerobik intensitas sedang terhadap indeks masa tubuh dan komposisi lemak tubuh dalam waktu delapan minggu. Andersson et al. (1991) melakukan penelitian terhadap pria dan wanita  obesitas selama tiga bulan dengan melakukan program pelatihan fisik. Setelah tiga bulan program, baik pria maupun wanita kehilangan berat badan sekitar 2 kg dengan penurunan 2,6-2,9 kg lemak tubuh.

Tujuan  penelitian  ini  adalah  menganalisis perubahan lemak tubuh pada mahasiswi IPB akibat pengaruh intervensi latihan senam aerobik intensitas sedang (low impact) selama dua, tiga dan empat kali dalam seminggu.

 

METODE

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Gizi Olahraga IPB dari bulan Maret hingga Mei 2012 dengan desain penelitian quasi eksperimental pre-test dan post-test. Penelitian ini menganalisis pengaruh senam aerobik intensitas sedang terhadap lemak tubuh 21 mahasiswi IPB. 21 sampel ini terbagi menjadi 3 kelompok perlakuan. Masing-masing kelompok perlakuan melakukan latihan senam aerobik intesitas sedang dengan frekuensi yang berbeda-beda yaitu kelompok perlakuan 1 frekuensi latihan 2 kali seminggu, kelompok perlakuan 2 frekuensi latihan 3 kali seminggu, kelompok perlakuan 3 frekuensi latihan 4 kali seminggu.

Dua puluh satu responden dipilih dengan melakukan pengacakan terhadap mahasiswi yang bersedia mengikuti penelitian yang akan dilakukan untuk kemudian dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan. Sampel ditentukan dengan mempertimbangkan beberapa kriteria  yaitu usia antara 18-21 tahun, mahasiswi program studi ilmu gizi masyarakat IPB, memiliki IMT > 22 kg/ m2, Tidak menderita penyakit berat, dan bersedia mengikuti penelitian hingga selesai. Sedangkan untuk kriteria eksklusif adalam merokok, mengonsumsi suplemen tinggi protein atau lemak, mengikuti program latihan berat dan tergabung dalam penelitian lainnya.

Untuk menentukan jumlah sampel yang diteliti digunakan rumus berikut (lemeshow 1997) :

n = (Zα + Zβ)2 σ2

      δ2

                  Zα =  nilai peubah acak normal baku sehingga  p     (Z>Zα,α=0,05)=1,96.

Zβ  =  nilai peubah acak normal baku sehingga p(Z>Zβ, β=0,05)=1,64.

σ2  =  ragam kebugaran jasmani mahasiswi, diasumsi kan = 1

δ  =  perkiraan peningkatan kebugaran jasmani putri =1,35 L/menit

Data primer meliputi data berat badan (kg) yang diukur dengan menggunakan timbangan scale person dengan ketelitian 0,1 kg, data tinggi badan (cm) yang diukur dengan menggunakan microtoise dengan ketelitian 0,1 cm kemudian dikonversikan menjadi IMT (kg/ m2), sedangkan pengukuran lemak tubuh (trisep, abdomen, paha depan) menggunakan skinfold.

Pelaksanaan penelitian dimulai dengan membagi kelompok intervensi menjadi tiga yang mendapat intervensi latihan senam aerobik intensitas sedang (low impact) selama delapan minggu. Masing-masing kelompok memperoleh latihan dengan intensitas yang sama yaitu 60-80% tetapi memiliki jumlah frekuensi latihan yang berbeda. Setiap intervensi   senam aerobik intensitas sedang (low impact) dalam setiap pelaksanaanya dilakukan secara sama yaitu dimulai dengan pemanasan (stretching) selama 5-10 menit kemudian dilanjutkan dengan gerakan inti selama 20-30 menit dan diakhiri dengan pendinginan 5-10 menit. Gerakan dasar senam aerobik dengan mengkombinasikan gerakan kaki dan tangan sehingga peserta senam aerobik menjadi tidak bosan dalam mengikuti latihan ini.

Untuk mengetahui sebaran data secara deskriptif menggunakan analisis univariat. Seluruh data rasio dari variabel lemak tubuh sebelum dan sesudah perlakuan kemudian diuji dengan menggunakan uji paired sample test untuk melihat pengaruh sebelum dan sesudah perlakuan senam aerobik dan lemak tubuh mahasiswi IPB.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengukuran karakteristik subjek merupakan mahasiswi dari program studi Ilmu Gizi IPB angkatan 46 dan 47 yang masih aktif dalam perkuliahan yang mempunyai usia pada rentang remaja akhir dan dewasa awal yaitu antara 18 sampai 22 tahun. Subjek yang paling muda berumur 18 tahun 2 bulan dan tertua berusia 22 tahun 11 bulan.

Tabel 1  Karakteristik subjek sebelum pelaksanaan intervensi

Variabel Minimal Maksimal Rata-rata
Usia (tahun) 18,2 22,1 20,21
Berat Badan (kg) 54,5 87,3 64,37
Tinggi Badan (cm) 142,9 162,4 154,9
Indeks Massa Tubuh (kg/m2) 22,9 33,4 26,8

 

  1. Pengaruh frekuensi senam aerobik intensitas sedang terhadap trisep

Pengukuran lemak tubuh dilakukan dengan menggunakan skinfold karena  lebih akurat dibandingkan dengan pengukuran Biolectrical Impedance Analyze (BIA) yang dilakukan secara digital.Hasil pengukuran lipatan lemak bawah kulit sebelum dan sesudah intervensi menunjukkan terjadi penurunan lipatan lemak trisep pada ketiga kelompok perlakuan tersebut (tabel 2). Hasil analisis paired sample test (tabel 2) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara lipatan lemak trisep awal dan akhir pada kelompok perlakuan 1 dan 3 (p<0,05) tetapi tidak terdapat perbedaan antara lipatan lemak trisep awal dan akhir pada kelompok perlakuan 2.

Tabel 2  Sebaran tebal lipatan lemak bawah kulit sebelum dan sesudah intervensi

 

Variabel Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3
Awal Akhir Selisih p Awal Akhir Selisih p Awal Akhir Selisih p
Trisep (cm) 33,4 20,8 12,6 0,018* 24,8 20,4 4,4 0,059 28,5 21,9 6,6 0,029*
Abdomen (cm) 32,0 23,5 8,5 0,179 19,8 16,7 3,1 0,094 25,1 19,7 5,4 0,005*
Paha (cm) 42,0 30,5 11,5 0,043* 40,5 30,5 10,0 0,047* 46,7 37,3 9,4  

0,008*

*terdapat perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi

  1. Pengaruh frekuensi senam aerobik intensitas sedang terhadap abdomen

Terdapat penurunan lipatan lemak abdomen pada ketiga kelompok perlakuan dengan penurunan lemak bawah kulit subjek pada kelompok 1, 2 dan 3 berturut-turut sebesar 8,5 cm, 3,1 cm, dan 5,4 cm (Tabel 2). Hasil analisis paired sample test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara lipatan lemak abdomen awal dan akhir subjek pada kelompok 3 (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan antara lipatan lemak abdomen awal dan akhir pada kelompok 1 dan 2 (p>0,05).

Penelitian yang dilakukan Lee et al. (2012) di Korea menunjukkan bahwa latihan aerobik yang dilakukan secara rutin selama 14 minggu terbukti dapat menurunkan lemak abdomen dengan kombinasi low impact serta high impact. Penelitian lain yang dilakukan Damaso et al. (2014) menunjukkan bahwa kom- binasi latihan aerobik dan latihan kekuatan yang dilakukan pada 139 remaja obesitas terjadi penurunan lemak tubuh dan menurunkan risiko terjadinya penyakit  kardiovaskular.

 

  1. Pengaruh frekuensi senam aerobik intensitas sedang terhadap paha depan

Pada ketiga kelompok perlakuan menunjukkan adanya penurunan tebal lipatan lemak paha sebelum dan setelah intervensidengan penurunan tebal lipatan lemak paha masing-masing sebesar 11,5 cm, 10 cm, 9,4 cm (Tabel 2). Hasil analisis paired samples t test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara tebal lipatan lemak paha awal dan akhir subjek pada ketiga kelompok intervensi, yaitu kelompok 1, 2, dan 3 (p<0,05). Penelitian  yang  dilakukan  oleh  Ogawa et al. (2011) pada  remaja dan dewasa di jepang menunjukkan adanya perbedaan terhadap lipatan lemak paha depan antara kedua kelompok perlakuan.sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Abe et al. (2010) menunjukkan bahwa latihan aerobik intensitas sedang dengan menggunakan sepeda memberikan  perubahan yang nyata pada komposisi lipatan lemak paha depan pada remaja yang mendapat  intervensi  selama  delapan  minggu di Jepang.

Penelitian yang dilakukan Alizadeh (2012) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara senam aerobik yang dilakukan secara terus menerus dan senam aerobik yang dilakukan secara bergantian intensitasnya terhadap penurunan  komposisi  lemak tubuh pada wanita overweight dan obesitas. Untuk itu perlu melakukan aerobik secara rutin untuk membantu menurunkan masa lemak tubuh termasuk lipatan lemak paha depan. Hasil berbeda ditunjukkan pada penelitian yang dilakukan oleh Keating et al. (2014) bahwa latihan High Intensity Interval Training (HIIT) signifikan berpengaruh  terhadap  penurunan  masa lemak tubuh dibandingkan dengan aerobik intensitas sedang  pada  usia dewasa obesitas. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ortega et al. (2013) yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan komposisi lemak tubuh antara kelompok diet dan latihan aerobik maupun diet saja yang dilakukan pada 14 orang remaja obesitas.

 

SIMPULAN

Frekuensi senam aerobik intensitas sedang empat kali dalam seminggu mempunyai fungsi yang paling baik untuk menurunkan lemak tubuh dibandingkan dengan frekuensi dua kali dan tiga kali dalam seminggu. Perlu adanya penelitian lanjutan untuk membandingkan pengaruh senam aerobik intensitas sedang (low impact), intensitas tinggi (high impact), dan program diet terhadap status kebugaran dan status gizi remaja.

 

Sumber:

 

Kuswari M, Setiawan B, Rimbawan. 2015. Frekuensi senam aerobik intensitas sedang berpengaruh terhadap lemak tubuh pada mahasiswi IPB. Jurnal Gizi Pangan 10(1): 25-32. Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *